Home » Renungan » Tawaf Kehidupan

Sebenarnya gak ada niatan untuk posting hari ini, tapi tiba-tiba teringat dengan buku yang dibaca kemaren. Judul bukunya ” Saat Tuhan Menyapa Hatimu” yang ditulis oleh Yusuf Burhanudin, seorang sarjana tafsir Al – Qur’an Universitas Al-Azhar (Kairo, Mesir) dan berisikan berbagai macam cerita dan kisah. Menurut saya kisah dan cerita dalam buku ini sangat bagus, mungkin berguna/ bermanfaat bagi kita terutama untuk menjawab berbagai tantangan kekinian. Inilah salah satu kisahnya.

==================================

Suatu hari seorang suami asyik duduk bercengkrama bersama istri tercintanya sambil memakan daging ayam panggang. Tiba – tiba, pintu rumahnya diketuk seorang pengemis. Merasa terganggu, sang suami lalu menghardik dan mengusirnya. Hari – hari terus berlalu hingga pada akhirnya si suami jatuh miskin dan terpaksa menceraikan istrinya karena tidak mampu lagi memberinya nafkah.

Si istri kemudian dinikahi lelaki lain. Saat keduanya asyik berbincang – bincang sambil melahap daging ayam panggang. Tiba – tiba ada seorang pengemis yang mengetuk pintu rumahnya. Si suamipun kemudian menyuruh istrinya untuk memberikan daging ayam panggang itu kepadanya.

Tatkala istrinya keluar untuk menemui si pengemi, ia kaget bukan kepalang. Ternyata si pengemis itu tiada lain suaminya yang pertama. Setelah memberikan daging ayam panggang itu, sang istrilalu bergegas masuk sambil menangis tersedu -sedu. Suaminya lantas bertanya apa yang menyebabkan istrinya menangis. Si istri menjelaskan kalau si pengemis itu ternyata mantan suaminya yang pertama.

Kemudian si istri pun menceritakan perihal suaminya yang dulu pernah menghardik dan mengusir seorang pengemis. Suaminya itu lalu berujar,”Kenapa engkau kaget, demi Allah, sesungguhnya si pengemis pertama itu tiada lain aku sendiri!”

Banyak pesan yang bisa diambil dari cerita ini. Roda kehidupan senantiasa berputar. Orang miskin tiba – tiba kaya, konglomerat mendadak melarat, dan tukang becak siapa sangka akhirnya menjadi seorang gubernur. Dalam perputaran itu masing – masing orang akan menemui akibatnya sendiri sendiri sesuai dengan usahanya sendiri.

Perputaran tawaf dalam manasik haji memesankan, tak penting arah, posisi, dan kedudukan seseorang selama dirinya tetap istiqamah dalam mengitari poros agama yang telah digariskanTuhan. Perbedaan agama, status social, ras, dan suku semestinya tidak menghalangi kita untuk tetap mengulurkan silahturahmi kemanusiaan.

Tawaf haji adalah miniatur betapa kita harus selalu bertawaf saat mengarungi proses kehidupan ini. Kaya dan miskin adalah sama – sama mulia tatkala setiap kita tetap memegang teguh ajaran agama dan bukan malah saling memaki dan menghina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*